Dalam jalinan kata yang membentuk sakinah, ada satu simpul yang seringkali kita sebut namun jarang kita selami maknanya secara mendalam: Mawaddah.
Secara etimologis, mawaddah berakar dari kata wadda-yawaddu, yang berarti mencintai sekaligus menginginkan secara nyata. Dalam kacamata tafsir, jika mahabbah adalah getaran yang tersembunyi di balik rusuk, maka mawaddah adalah cinta yang mewujud, yang bisa disentuh, dan dirasakan manfaatnya oleh pasangan. Ia adalah anugerah yang harus dijemput melalui perbuatan.
Mari kita tengok bagaimana Rasulullah ﷺ memanifestasikan mawaddah dalam sebuah kepekaan psikologis yang sangat halus. Bayangkan sebuah meja makan sederhana, di mana Aisyah ra. sedang minum. Rasulullah ﷺ tidak hanya duduk menemani, namun beliau sengaja mengambil gelas yang sama, mencari bekas bibir istrinya, lalu meminum tepat di titik yang sama.
Dalam perspektif psikologi pernikahan, ini adalah puncak dari afirmasi. Beliau sedang mengirimkan pesan tanpa suara: “Aku menginginkanmu, aku menerima segala kondisimu, dan keberadaanmu adalah kenikmatan bagiku.” Inilah mawaddah dalam bentuk micro-gesture—sebuah seni melihat pasangan bukan sebagai rutinitas, melainkan sebagai anugerah yang selalu baru setiap harinya.
Mawaddah juga tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia adalah energi yang meluap, bahkan ketika raga tak lagi bersama. Lihatlah bagaimana Nabi ﷺ tetap setia mengirimkan hantaran daging kepada teman-teman Khadijah ra. jauh setelah sang istri wafat. Beliau merawat kenangan dengan cara memuliakan orang-orang yang pernah dicintai oleh istrinya.
Ini adalah pesan kuat bagi kita semua: bahwa bagi seorang mukmin, cinta kepada pasangannya haruslah melampaui usia. Ia tidak layu karena kerutan di wajah, tidak surut karena uban yang memutih, bahkan tidak terputus oleh liang lahat. Mawaddah adalah komitmen untuk mencintai sejarah, masa lalu, dan segala hal yang berkaitan dengan pasangan kita hingga ke haribaan-Nya.
“Mawaddah bukanlah tentang menemukan seseorang yang sempurna untuk dicintai, melainkan tentang ketulusan untuk terus melayani dan melihat ketidaksempurnaan dengan cara yang indah, hingga maut sekalipun tak mampu menghapus jejak kebaikannya.”
Jadikan setiap hari sebagai lembaran untuk mempraktikkan tafsir cinta yang paling nyata. Karena pada akhirnya, rumah tangga yang kokoh tidak dibangun di atas tumpukan teori, melainkan di atas hamparan pelayanan dan kasih sayang yang terlihat nyata dalam keseharian.
Rawatlah mawaddah itu, karena ia adalah modal utama untuk menjaga agar bahtera tetap berlayar, bahkan saat badai perbedaan pendapat sedang menerjang hebat. Jadikan setiap senyum dan bantuan kecil Anda sebagai sedekah cinta yang paling tulus bagi ia yang telah menemani perjalanan hidup Anda.



