Pagi ini, pemandangan di gerbang sekolah itu tampak serupa namun terasa berbeda. Setelah berminggu-minggu kita mendekap Ananda dalam hangatnya suasana Idul Fitri—shalat bersama, makan semeja, hingga tawa yang tumpah di perjalanan mudik—kini tiba saatnya tangan kecil itu perlahan lepas dari genggaman kita.
Ada rasa “nyes” yang halus di dada, bukan? Saat melihat punggung kecilnya menjauh, masuk ke lorong kelas, dan perlahan hilang dari pandangan. Kita pun berdiri mematung di parkiran, membawa sekeranjang cemas: “Sudah banyakkah ia minum?” “Bagaimana kalau ia diganggu temannya?” “Bisakah ia mengikuti pelajaran setelah libur panjang?”
Secara psikologis, apa yang kita rasakan sering disebut sebagai Separation Anxiety versi orang tua. Kita telah membangun “zona nyaman” yang begitu rekat selama liburan, sehingga perpisahan rutin ini terasa seperti kehilangan kendali. Kita ingin menjadi perisai bagi mereka 24 jam sehari, namun dunia punya aturannya sendiri.
Belajar dari Keranjang di Sungai Nil
Dalam lembar-lembar suci Al-Qur’an, Allah mengabadikan sebuah drama pengasuhan yang luar biasa dalam Surah Al-Qasas. Ingatkah kita pada ibunda Nabi Musa ‘alayhissalam?
Ketika ia diperintahkan untuk menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil yang arusnya tak menentu, logika manusia mana pun akan berteriak: “Itu gila! Itu berbahaya!” Namun, Allah membisikkan wahyu ke dalam hatinya:
“Janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati…” (QS. Al-Qasas: 7).
Secara tafsir, para ulama menjelaskan bahwa Allah mengosongkan hati ibunda Musa dari segala rasa gundah, kecuali hanya tentang Musa, lalu Allah ikat hati itu dengan iman agar ia menjadi orang yang percaya.
Ayah dan Bunda, sekolah adalah “Sungai Nil” bagi anak-anak kita. Di sana ada arus ilmu, tapi ada juga riam pergaulan yang deras. Tugas kita bukan terus-menerus memegangi keranjangnya agar tidak hanyut, karena jika kita lakukan itu, ia takkan pernah sampai ke istana peradaban. Tugas kita adalah menghanyutkannya dengan Tawakkul.
Seni Melepas dengan “Ikatan” yang Benar
Dalam sebuah Hadits, Rasulullah ﷺ bersyukur mengingatkan kita, “Ikatlah untamu, baru kemudian bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi).
Melepas anak kembali ke sekolah bukan berarti abai. Kita “mengikat unta” kita dengan memberikan bekal adab, membekali mereka dengan perlindungan diri, dan memilihkan sekolah yang baik. Namun, setelah tali itu kita ikat di gerbang sekolah, tangan kita harus dilepas.
Mengapa? Karena jika kita tidak melepas tangan, anak kita tidak akan pernah belajar tentang resilience (ketangguhan). Secara psikologis, anak yang terlalu diproteksi (overparenting) justru akan tumbuh dengan kecemasan yang tinggi. Mereka perlu merasakan sedikit “dinginnya” angin di luar rumah agar tahu betapa hangatnya pelukan kita saat mereka pulang nanti.
Dialog Kecil di Gerbang Sekolah
Esok pagi, saat Ananda mencium tangan kita sebelum masuk kelas, cobalah katakan ini di dalam hati (atau bisikkan di telinganya):
“Aku melepas genggaman tanganku di gerbang ini, namun kueratkan genggaman doaku di hadapan Rabb-mu. Sebab aku tahu, penjagaan-Nya jauh melampaui pelukanku.”
Percayalah, saat kita belajar melepaskan genggaman fisik, Allah akan memperkuat genggaman batin antara kita dan anak-anak kita. Kita tidak mengirim mereka ke medan perang, kita sedang mengirim mereka ke taman ilmu.
Pulanglah ke rumah dengan tenang, Ayah dan Bunda. Seduhlah kopi atau teh, lalu langitkan doa. Karena di saat kita tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan di sekolah, Allah melihatnya. Di saat kita tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan temannya, Allah mendengarnya.
Selamat mempraktikkan seni Tawakkul. Ternyata, menjadi orang tua adalah perjalanan panjang tentang belajar kapan harus mendekap erat, dan kapan harus melepas dengan penuh kerelaan.



