Khutbah Jum’at: Kemuliaan Di Tetes Keringat

khutbah jumat

Khutbah Pertama: Kemuliaan di Ujung Keringat

Mukaddimah

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَرْضَ ذَلُولًا لِنَمْشِيَ فِي مَنَاكِبِهَا وَنَأْكُلَ مِنْ رِزْقِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى مِفْتَاحُ كُلِّ خَيْرٍ وَسَبِيلُ الْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Mari kita awali khutbah ini dengan merenungi sebuah realitas sosial yang terpampang di hadapan mata kita. Di tengah kemajuan teknologi dan gedung-gedung yang menjulang tinggi, kita masih menyaksikan fenomena yang memprihatinkan: maraknya mentalitas “instan” dalam mencari nafkah. Fenomena judi online yang kian masif, praktik penipuan berkedok investasi, hingga meningkatnya jumlah pengemis di perempatan jalan, menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam memandang kerja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2023 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia masih berada di angka 5,32 persen atau sekitar 7,86 juta orang. Namun, yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar angka pengangguran adalah munculnya penyakit mental “enggan bersusah payah”. Banyak orang yang lebih memilih menadahkan tangan atau mencari jalan pintas yang tidak halal, daripada harus memeras keringat di jalan yang benar.

Kondisi ini sejalan dengan apa yang pernah dikhawatirkan oleh para ulama salaf. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin mengutip sebuah keadaan di mana seseorang beribadah sepanjang waktu namun menggantungkan hidupnya pada orang lain. Beliau menegaskan bahwa orang yang bekerja untuk menafkahi dirinya dan keluarganya justru memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Islam memandang bekerja bukan sekadar upaya pemenuhan kebutuhan fisiologis, melainkan sebuah manifestasi dari martabat kemanusiaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Ayat ini menggunakan kata perintah “I’malu” (bekerjalah), yang menunjukkan bahwa produktivitas adalah identitas seorang mukmin. Islam melarang keras umatnya menjadi beban bagi orang lain selama ia masih memiliki kekuatan.

Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat kuat mengenai kemuliaan bekerja dengan tangan sendiri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Dawud AS, memakan dari hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari, No. 2072).

Perhatikanlah, bahkan seorang Nabi yang memiliki kedudukan tertinggi di bumi, tidak malu untuk bekerja sebagai pandai besi. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang penggembala kambing dan pedagang ulung sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Ini adalah pesan telak bagi kita bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah selama itu halal. Yang rendah adalah mereka yang memiliki kesehatan fisik namun memilih untuk bermalas-malasan.

Jamaah Jumat yang Berbahagia,

Sebagai solusi atas fenomena kemalasan dan mentalitas instan tersebut, Islam menawarkan konsep “Ibadah dalam Bekerja”. Solusi ini mencakup tiga pilar utama:

Pertama: Niat yang Benar. Bekerja harus diniatkan untuk menjaga kehormatan diri (iffah) agar tidak meminta-minta, serta untuk menafkahi keluarga yang hukumnya wajib. Umar bin Khattab RA pernah berkata dalam kutipan yang masyhur di kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din karya Al-Mawardi :

لَا يَقْعُدَنَّ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ يَقُولُ اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً

“Janganlah salah seorang di antara kalian duduk-duduk tanpa mencari rezeki seraya berdoa: ‘Ya Allah, berilah aku rezeki’, padahal kalian tahu bahwa langit tidak menurunkan hujan emas maupun perak.”

Kedua: Profesionalisme dan Integritas (Itqan). Seorang Muslim yang mulia adalah mereka yang jika bekerja, ia melakukannya dengan tuntas dan berkualitas. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional/tekun).” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Ketiga: Menjaga Kehalalan. Kemuliaan tidak akan diraih dari harta yang syubhat apalagi haram. Harta yang haram akan mencabut keberkahan dalam keluarga dan menghalangi terkabulnya doa. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 172).

Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah,

Mari kita ubah cara pandang kita. Pekerjaan apa pun yang kita geluti saat ini—apakah itu petani di sawah, buruh di pabrik, karyawan di kantor, hingga pejabat di pemerintahan—adalah ladang jihad kita masing-masing. Tetesan keringat yang jatuh karena kelelahan mencari nafkah yang halal adalah penggugur dosa di sisi Allah.

Dalam sebuah atsar yang disebutkan oleh Said bin Al-Musayyib (seorang pemuka Tabi’in), beliau berkata: “Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengumpulkan harta dengan cara yang halal, yang dengannya ia menjaga kehormatan wajahnya (dari meminta-minta), menyambung silaturahmi, dan menunaikan hak-hak yang ada padanya.” (Dikutip dalam Hilyatul Auliya).

Demikianlah Islam mendidik kita. Kemuliaan bukan terletak pada banyaknya harta yang didapat dari warisan atau pemberian tanpa usaha, melainkan pada kemandirian dan kebermanfaatan. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk senantiasa istiqomah di jalan yang halal, memberikan keberkahan pada setiap rupiah yang kita usahakan, dan menjauhkan kita dari sifat malas yang merendahkan martabat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Sebagai penutup khutbah ini, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar dikaruniai kemandirian ekonomi dan hati yang qana’ah. Ingatlah bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Kekuatan umat Islam sangat bergantung pada kekuatan ekonomi individu-individunya. Jika umat ini kuat secara ekonomi melalui kerja keras yang halal, maka martabat agama ini pun akan terjaga.

Mari kita berdoa agar segala usaha kita dicatat sebagai amal shalih dan menjadi wasilah bagi kita untuk masuk ke dalam jannah-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Infaq Operasional Dakwah

Jadilah jembatan hidayah! Dukung operasional dai pedalaman melalui infaq terbaikmu. Mari jaga semangat dakwah di Sulawesi Utara.
Scroll to Top