Dalam khazanah bahasa Arab, kata thaga (طغى) atau thughyan bukan sekadar istilah teknis kebahasaan. Ia adalah sebuah gambaran visual yang sangat kuat tentang air yang meluap dari wadahnya atau sungai yang banjir hingga menjebol bantarannya. Secara filosofis, ketika istilah ini disematkan pada perilaku manusia, ia menggambarkan sosok yang merasa dirinya sudah “penuh”, sudah “cukup”, dan sudah “besar”, sehingga ia meluap keluar dari batasan-batasan kehambaan.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan fundamental dalam Surah Al-‘Alaq ayat 6-7: “Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas (layathgha), karena dia melihat dirinya serba cukup (istaghna).” Inilah akar masalahnya. Sifat thaga lahir dari perasaan istaghna—sebuah persepsi palsu bahwa kita tidak lagi butuh pada petunjuk, peringatan, apalagi pertolongan Langit. Inilah tembok beton yang membuat hidayah hanya mampu memantul di permukaan tanpa pernah sanggup meresap ke dalam sanubari.
Tragedi ini terpotret nyata dalam sosok Amr bin Hisyam. Sejarah mengenalinya sebagai tokoh yang cerdas, diplomat yang ulung, dan orator yang disegani, hingga masyarakat Quraisy menjulukinya Abul Hakam—Bapak Kebijaksanaan. Namun, mengapa sosok secerdas dia justru berakhir dengan gelar Abu Jahal—Bapak Kebodohan? Apakah logikanya mendadak lumpuh saat berhadapan dengan Muhammad SAW?
Sama sekali tidak. Secara akal, mustahil bagi pria secerdas dia untuk tidak menangkap kebenaran pada untaian wahyu yang dibawa Rasulullah. Namun, penyakit thaga telah menyumbat saluran hidayah dalam dirinya. Ia merasa posisinya terancam, gengsinya terusik, dan egonya terlalu tinggi untuk berjalan di belakang seorang yatim. Kesombongan inilah yang mengubah kecerdasan menjadi hijab (penutup). Ia tahu itu benar, namun ia memilih membangkang.
Hari ini, pola yang sama sedang berulang di tengah kita. Kita hidup di zaman ledakan informasi, di mana ilmu agama bisa diakses dalam hitungan detik. Kita mungkin merasa telah jauh dari karakter Abu Jahal karena kita adalah orang-orang yang rajin mengaji, fasih mengutip dalil, dan berdiri di barisan pembela agama. Kita merasa aman karena telah memiliki bejana yang penuh dengan pengetahuan.
Namun, di sinilah letak plot twist yang menyentak kesadaran kita:
Jika ilmu yang kita miliki justru membuat kita merasa lebih suci dari orang lain, jika ketaatan yang kita bangun justru menumbuhkan rasa rendah terhadap mereka yang belum mendapat petunjuk, dan jika kita merasa “sudah sampai” sehingga tidak lagi merasa butuh untuk dievaluasi, maka sebenarnya kita sedang mengidap penyakit thaga dalam bentuk yang paling halus.
Seringkali, sosok “Abu Jahal” yang kita benci dalam sejarah itu bukan lagi orang luar yang memusuhi agama. Ia bisa jadi adalah diri kita sendiri—orang yang berada di barisan terdepan ibadah, namun memiliki hati yang meluap karena kesombongan. Kita merasa sedang menggenggam cahaya, padahal sebenarnya kita sedang membangun tembok yang menutup pintu hidayah bagi diri kita sendiri dan orang lain. Sebab, cahaya hanya akan mengisi bejana yang rendah dan merasa kosong, bukan hati yang penuh dengan rasa jumawa.
Bangkitlah! Buanglah jubah kesombongan itu sebelum terlambat. Karena hidayah bukan milik mereka yang merasa paling tahu, melainkan milik mereka yang senantiasa merasa fakir di hadapan Allah.



