Di ujung senja yang kian merunduk, saat rona jingga perlahan luruh di ufuk barat, ada seiris perih yang menyelinap di antara sela-sela zikir kita. Langit seolah ikut berkhidmat, menyaksikan sebuah perpisahan yang tak pernah benar-benar kita inginkan, namun harus kita relakan.
Ramadhan, sang tamu agung itu, kini tengah mengemas koper-koper keberkahannya untuk kembali ke haribaan Sang Pencipta.
Sang Kekasih yang Berpamit
Ibarat seorang kekasih yang paling setia, Ramadhan datang bukan untuk menetap, melainkan untuk menempa. Ia adalah madrasah bagi jiwa-jiwa yang haus akan ampunan, tempat di mana lapar dan dahaga justru menjadi jalan bagi jernihnya mata batin. Kini, saat ia melambaikan tangan di gerbang perpisahan, kita seakan tertegun: Sudahkah kita benar-benar menyambutnya dengan jantung yang berdegup rindu, ataukah kita hanya menjadikannya rutinitas yang lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas di dalam nadi?
Dahulu, para salafus shalih senantiasa meratapi kepergian bulan ini. Bukan karena takut akan hilangnya keberkahan rezeki duniawi, melainkan karena cemas jika sujud-sujud yang tergesa itu tak sampai ke langit. Teringat kita pada sebuah momentum syahdu saat Baginda Nabi ﷺ menaiki mimbar dan mengucap “Aamiin” atas doa Malaikat Jibril. Salah satunya adalah peringatan keras bagi kita:
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Kalimat ini semestinya menjadi cermin yang bening bagi kita. Apakah tiga puluh hari kemarin telah cukup untuk membasuh jelaga dosa di dinding hati, ataukah kita justru termasuk orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa makna?
Membawa Bekas di Luar Madrasah
Perpisahan dengan Ramadhan sebenarnya adalah sebuah awal dari pembuktian. Jika di bulan ini kita bisa menundukkan amarah dan mengekang syahwat, maka sebelas bulan ke depan adalah medan juang yang sesungguhnya. Kita seringkali merasa sedih saat Ramadhan pergi, namun kebenaran dari kesedihan itu diuji pada subuh-subuh di bulan Syawal. Akankah sajadah kita tetap tergelar? Akankah mushaf kita tetap terbuka?
Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bagi mereka yang mampu menjaga konsistensi ketaatan pasca-Ramadhan:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim).
Ini adalah cara Allah merawat “nyala api” yang telah disulut selama Ramadhan agar tidak padam begitu saja oleh tiupan angin duniawi di bulan-bulan lainnya.
Menitip Rindu pada Gema Takbir
Maka, biarlah air mata ini meluruh bersama desau angin malam-malam terakhir. Biarlah ia menjadi saksi atas segala khilaf dan alpa kita selama ia bertamu. Kita menitipkan seuntai doa di antara gema takbir yang mulai merayap di relung jiwa: “Yaa Allah, jangan jadikan ini puasa terakhir kami. Namun jika memang Engkau telah menetapkan garis batas bagi usia kami, maka jadikanlah akhir Ramadhan ini sebagai husnul khatimah bagi perjalanan panjang kami menuju-Mu.”
Selamat jalan, wahai bulan cahaya. Kami akan senantiasa merawat kebaikan yang kau tinggalkan di dalam dada, sembari menatap ufuk dengan penuh harap—menunggu waktu di mana kita mungkin akan dipertemukan kembali dalam pelukan rahmat-Nya yang tak bertepi.



