Menenun Istiqomah Sebakda Fitri

Gallery Ds Sv1GIUTeyyU Unsplash 1024x576

Menjaga agar wangi Ramadhan tetap lekat di sekujur jiwa saat ia telah melangkah menjauh adalah sebuah perjuangan riyadhah (latihan) yang menantang. Ramadhan bukanlah garis finis, melainkan sebuah madrasah tempat kita menempa sayap untuk terbang mengarungi sebelas bulan berikutnya.

Jika kita mengibaratkan bahwa Ramadhan adalah sebuah ikhtiyar merajut benang-benang amal sholih untuk dijadikan pakaian taqwa yang kita kenakan dan rayakan di hari fitri, maka mengabaikan atsar taqwa dalam diri kita setelahnya adalah serupa dengan mengurai kembali benang-benang tersebut, dari pakaian menjadi helai benang tercerai berai. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al Qur’an, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (QS. An Nahl: 92)

Berikut adalah lima ikhtiar agar nuansa kesucian itu tetap membersamai langkah kita, dirajut dengan benang-benang hikmah:

Menjaga Nadi Istiqamah dalam Amal yang Sedikit
Seringkali kita terjebak dalam euforia ibadah yang meluap-luap selama Ramadhan, lalu mendadak kering saat Syawal tiba. Padahal, Allah lebih mencintai gerimis yang ajeg membasahi bumi daripada banjir bandang yang datang sesaat lalu surut seketika.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (istiqamah), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pilihlah satu amal ringan dari Ramadhan—mungkin dua rakaat Dhuha atau sedekah subuh—dan berjanji pada diri untuk tidak meninggalkannya apa pun yang terjadi.

    Merawat Dialog melalui Tilawah yang Tak Terputus
    Jangan biarkan mushaf kita kembali berdebu di rak yang tinggi. Ramadhan adalah Bulan Al-Qur’an, namun Al-Qur’an adalah nafas bagi orang beriman di sepanjang usia. Jika selama Ramadhan kita mampu mengkhatamkannya, maka setelahnya, jadikan ia teman bicara di sela kesibukan.

    Ibnu Rajab Al-Hanbali pernah berujar bahwa salah satu tanda diterimanya amal Ramadhan adalah “Taufiq (kemudahan) untuk melakukan ketaatan setelahnya.” Kita bisa mulai dengan menetapkan target “One Day One Page” atau sekadar merenungi satu ayat setiap pagi agar cahaya Kalam-Nya tetap menerangi lorong-lorong pikiran kita.

    Melanjutkan Riyadhah melalui Puasa Sunnah
    Puasa adalah perisai. Untuk menjaga agar perisai itu tidak berkarat, kita perlu melatihnya kembali. Syawal adalah pintu gerbang pertama untuk membuktikan bahwa kita adalah benar-benar “alumni” yang merindukan lapar dan dahaga demi rida-Nya.

    Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim).

    Segerakan puasa Syawal, lalu susul dengan puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh sebagai cara mengekang syahwat yang mulai kembali menggoda. Jika sebulan penuh kita mampu berpuasa, apalagi hanya beberapa hari di antaranya, insya Allah bisa!

    Menghidupkan Mihrab Sunyi di Sepertiga Malam
    Keindahan Tarawih adalah keindahan dalam kebersamaan, namun kemuliaan seorang hamba sesungguhnya ada pada saat ia bersimpuh sendirian di hadapan Sang Khaliq kala dunia sedang terlelap. Jangan biarkan kebiasaan bangun malam di waktu sahur hilang begitu saja.

    Rasulullah ﷺ bersabda melalui lisan Jibril AS, “Ketahuilah, bahwa kemuliaan seorang mukmin ada pada shalat malamnya (Tahajjud).” (HR. Al-Hakim).

    Tubuh kita sebenarnya telah beradaptasi dengan terbiasa bangun di waktu sahur, beberapa menit atau satu jam sebelum Shubuh, kita hanya perlu mengkalibrasi ulang mental agar kembali bisa terbangun. Bangunlah 15 menit sebelum Subuh. Cukup dua rakaat yang khidmat, sebagai bentuk kerinduan kita pada saat-saat “bercengkerama” dengan Allah di malam-malam Ramadhan.

    Menjaga Lisan dan Empati yang Telah Melembut
    Ramadhan melatih kita untuk tidak hanya menahan lapar, tapi juga menahan jelaga lisan dari ghibah dan prasangka. Nuansa Ramadhan akan tetap ada jika kita tetap memandang sesama hamba dengan tatapan kasih sayang dan tangan yang ringan untuk berbagi.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 183 bahwa tujuan akhir puasa adalah agar kita menjadi pribadi yang Muttaqin. Dan ciri orang bertaqwa adalah mereka yang “Menginfakkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya…” (QS. Ali Imran: 134).

    Ayo, jadikan kebiasaan berbagi takjil atau sedekah Ramadhan bertransformasi menjadi kepedulian sosial yang nyata dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, sepanjang tahun.

    Semoga Allah senantiasa membimbing jemari jiwa kita untuk tetap memegang erat tali ketaatan, hingga saat perjumpaan dengan Ramadhan berikutnya tiba, kita masih dalam keadaan hati yang terjaga kesuciannya.

    Scroll to Top