Dalam diskursus pergerakan Islam kontemporer, Hidayatullah memposisikan diri pada koordinat yang unik dengan menekankan aspek proses dan sistematika sebagai variabel determinan keberhasilan tarbiyah dan dakwah. Gagasan mengenai Sistematika Wahyu (SW) hadir bukan sekadar sebagai kurikulum internal, melainkan sebagai sebuah anti-tesis terhadap asumsi sosiologis bahwa kegagalan berbagai gerakan dakwah global berakar pada ketiadaan sistematika yang koheren antara tarbiyah (pendidikan) dan harakah (pergerakan). Jika sebuah pergerakan diibaratkan sebagai struktur bangunan, maka menentukan “batu bata pertama” yang diletakkan adalah keputusan strategis yang akan menentukan integritas seluruh konstruksi bangunan kekaderan di atasnya.
Untuk mengidentifikasi materi fundamental tersebut, kita perlu merujuk pada salah satu fragmen paling otoritatif dalam siroh nabawiyah, yakni diplomasi Ja’far bin Abi Thalib di hadapan Raja Najasyi (Negus) saat migrasi (hijrah) ke Habasyah. Penjelasan Ja’far bukan sekadar pembelaan politik, melainkan sebuah resume teologis dan sosiologis mengenai materi pertama yang ditanamkan oleh Rasulullah SAW kepada generasi awal.
Fragmen Diplomasi Ja’far bin Abi Thalib
Dalam suasana penuh ketegangan di istana Habasyah, Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan orasi yang merangkum esensi transformasi manusia:
“Wahai Baginda Raja, dahulu kami adalah kaum yang hidup dalam kejahiliyahan. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kekejian, memutuskan tali silaturahmi, dan memperlakukan tetangga dengan buruk. Yang kuat di antara kami memangsa yang lemah. Kami berada dalam kondisi demikian hingga Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri; yang kami kenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya, dan kesucian citranya.
Ia menyeru kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya semata, serta meninggalkan batu dan berhala yang dahulu kami dan bapak-bapak kami sembah. Ia memerintahkan kami untuk berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, serta menahan diri dari pertumpahan darah dan perkara yang haram…”
Analisis Fondasi: Materi Pertama sebagai Paradigma
Berdasarkan paparan Ja’far, materi pertama dalam pengkaderan bukanlah persoalan fiqih yang rigid atau administrasi organisasi yang teknis, melainkan Transformasi Identitas dan Integritas Moral. Materi pertama haruslah memuat dua pilar utama:
- De-konstruksi Jahiliyyah (Negasi): Pemutusan hubungan dengan nilai-nilai lama yang destruktif (kesyirikan, penindasan, dan amoralitas).
- Rekonstruksi Tauhid dan Karakter (Afirmasi): Pembangunan kesadaran ketuhanan yang berimplikasi langsung pada kejujuran (shidiq) dan tanggung jawab sosial.
Kontekstualisasi Materi Pengkaderan bagi Generasi Z
Tantangan hari ini adalah menerjemahkan substansi yang disampaikan Ja’far ke dalam ruang psikologis Generasi Z (Gen Z), yang hidup dalam ekosistem digital dan menghadapi krisis eksistensial yang berbeda dengan generasi sahabat. Mengajarkan materi pertama kepada Gen Z memerlukan pendekatan yang bersifat naratif, logis, dan berdampak nyata.
1. Dari Penolakan Berhala menuju Penolakan “Digital Idols”
Jika Ja’far bicara tentang meninggalkan patung batu, maka pengkaderan hari ini harus dimulai dengan membedah “berhala modern”: validasi media sosial, konsumerisme akut, dan glorifikasi diri (narsisisme digital). Materi pertama harus mampu memberikan kesadaran bahwa kemerdekaan manusia dimulai saat mereka berhenti memperbudak diri pada algoritma dan opini publik, serta mengalihkan orientasi hidupnya hanya kepada Allah (Tauhid sebagai kemerdekaan mental).
2. Literasi Kejujuran di Era Post-Truth
Penekanan Ja’far pada berkata jujur sangat relevan bagi Gen Z yang terkepung oleh hoaks dan disinformasi. Materi pengkaderan pertama harus meletakkan integritas informasi sebagai bagian dari iman. Kader diajarkan bahwa kejujuran bukan sekadar moralitas individu, melainkan basis bagi tatanan sosial yang sehat.
3. Restorasi Koneksi Sosial: Menembus Isolasi Digital
Ja’far menekankan silaturahmi dan adab bertetangga. Bagi Gen Z yang cenderung mengalami kesepian (loneliness) meski terhubung secara daring, materi pengkaderan pertama harus menawarkan “Komunitas Makna”. Pengkaderan harus mampu merevitalisasi hubungan antar-manusia secara fisik dan empatik sebagai antitesis dari interaksi digital yang dangkal.
Kesimpulan
Menentukan materi pertama dalam pengkaderan Hidayatullah adalah upaya untuk mengembalikan dakwah pada rel yang sistematis dan profetik. Dengan merujuk pada narasi Ja’far bin Abi Thalib, kita mendapati bahwa fondasi kekaderan adalah penanaman Tauhid yang transformatif. Bagi Gen Z, materi ini harus dibungkus dalam bahasa yang mampu menjawab kegelisahan batin mereka; bahwa Islam hadir bukan untuk menambah beban aturan, melainkan sebagai jalan keluar dari penjara eksistensial dunia modern menuju kemuliaan sebagai hamba Allah. Di sinilah Sistematika Wahyu membuktikan relevansinya: ia tidak hanya mengatur urutan mengajar, tapi memastikan bahwa setiap tahap pendidikan menyentuh relung terdalam kebutuhan manusia.



