Dunia ini sering kali terasa seperti sebuah teka-teki yang terenkripsi. Kita semua mengejar kesuksesan, namun tanpa “kunci” yang tepat, kita sering kali tersesat dalam memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.
Hakikatnya, kita berada di dunia ini untuk diuji. Platform ujiannya adalah apa yang kita lihat dan dengar, atau yang disebut sebagai dunia persepsi (musyahadah). Sementara itu, iman selalu berkaitan dengan hal yang tidak terlihat (ghaib).
Masalah muncul ketika kita menjadi terlalu terpaku pada apa yang nampak secara lahiriah. Kita sering kali lalai terhadap sistem Allah yang bekerja di balik layar, yang tidak tertangkap oleh mata kepala.
Mengapa Kita Mengalami Futur?
Lemahnya iman atau futur terjadi saat kita mulai lebih percaya pada persepsi indra daripada informasi dari Allah. Iman seharusnya menjadi kekuatan untuk menegasikan apa yang kita lihat dan mengafirmasi apa yang Allah sampaikan melalui wahyu.
Kita sering kali “terkondisi” oleh dunia, mirip dengan eksperimen anjing Pavlov. Ketika lonceng berbunyi, anjing mengeluarkan air liur karena mengira makanan akan datang, padahal makanan itu belum tentu ada.
Demikian pula kita; kita merasa aman saat punya uang dan merasa cemas saat tidak punya. Hati kita terikat pada “lonceng” sebab-akibat duniawi, sehingga kita lupa bahwa Allahlah pemberi hasil yang sebenarnya.
Pelajaran dari Kisah Nabi Musa A.S.
Allah mengajarkan Nabi Musa A.S. untuk tidak bergantung pada panca indra. Saat Musa diperintahkan menjatuhkan tongkatnya, Allah mengubah persepsinya: benda yang semula menjadi tumpuannya berubah menjadi ular yang menakutkan.
Pelajaran ini berlanjut saat Musa sakit dan diperintahkan memakan sehelai daun sebagai obat. Pada kali pertama, ia sembuh karena ia datang kepada Allah terlebih dahulu sebelum mengambil daun tersebut.
Namun, saat sakit itu datang kembali, Musa langsung mengambil daun tersebut tanpa meminta kepada Allah. Hasilnya? Ia tidak sembuh. Allah ingin menunjukkan bahwa sarana atau “sebab” itu mati dan tidak berguna tanpa izin-Nya.
Membedah Rumus: Iman, Amal, dan Hasil
Ada sebuah siklus yang tidak terputus dalam kehidupan seorang mukmin: Iman –> Amal –> Hasil. Jika iman kita meningkat, maka motivasi untuk melakukan amal baik akan ikut naik.
Amal-amal baik yang kita “unggah” ke langit akan membuahkan situasi hidup yang baik yang kita “unduh” kembali di dunia. Sebaliknya, jika hidup terasa sempit dan menyesakkan, itu adalah alarm untuk memeriksa amal dan iman kita.
Allah berfirman bahwa siapa pun yang berpaling dari peringatan-Nya, maka ia akan menjalani kehidupan yang sempit dan penuh depresi. Kesulitan hidup sering kali merupakan cara Allah “menampar” kita agar bangun dari kelalaian.
Metodologi Meningkatkan Iman
Untuk memperkuat iman yang sedang melemah, kita perlu kembali ke metode dasar yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Fokus utamanya adalah membesarkan keagungan Allah di dalam hati agar dunia terlihat kecil.
Mulailah dengan membicarakan kebesaran Allah secara lisan. Semakin sering kita menyebut nama-Nya dan memuji-Nya, semakin kokoh konsep Laa ilaha illallah di dalam hati kita.
Latihlah hati untuk selalu merujuk kepada Allah sebagai prioritas pertama dalam setiap keadaan. Jika saat sedang sulit atau butuh bantuan hati kita pertama kali teringat pada Allah sebelum terpikir untuk menghubungi bantuan manusia, itu adalah tanda iman kita mulai pulih.
Ingatlah, siapa pun yang tidak mau datang kepada Allah dengan sukarela melalui pintu nikmat, maka Allah akan “menyeretnya” kembali melalui pintu ujian. Semua itu adalah bentuk kasih sayang-Nya agar kita tidak tersesat selamanya.
Wallaahu a’lam bish-shawabi.



